EMU


Malam itu adalah malam yang sangat menyeramkan bagi Emu. Bukan karena takut akan hantu atau sejumlah makhluk astral lainnya seperti yang ada di film-film. Malam itu dia diajak oleh teman-temannya untuk pergi ke tempat hiburan. Mendengar ajakan itu, sebentar saja otak Emu membeberkan kengerian tempat itu yang selalu ditakuti dan dijauhi orang soleh. Dia sudah menerka-nerka apa yang akan terjadi seandainya dia berada bersama orang-orang di hadapannya itu, dan berkumpul dengan orang-orang  yang sudah jauh meninggalkan Tuhan, atau bahkan mungkin dengan orang yang belum pernah mengenal Tuhan sekalipun. Sebentar saja pikirannya membayangkan akan didatangi wanita-wanita malam dengan pakaian seminim mungkin untuk menggugah 'hasratnya',  dan kemudian dia akan disuguhi dengan minuman yang membuatnya lupa siapa dirinya , berjalan sempoyongan, dan memaki orang di sekitarnya dengan omongan tidak jelas, sambil mengeluarkan isi perutnya kemana-mana. "Ini musibah besar" pikirnya. Tanpa banyak basa-basi, Emu menolak ajakan itu dengan cara terbaiknya.

Emu sempat melemparkan argumen yang memberatkan alasan penolakannya. Dia juga berusaha sebijak mungkin untuk tidak menyinggung perasaan mereka yang dia hormati. Namun, Emu tidak menemukan alasan yang pas untuk memenangkan perdebatan kecil itu. Beberapa kali Emu berusaha menjelaskan, tapi tetap saja jawaban mereka lebih logis. Emu tersudut karena dia hanya satu suara, sementara mereka menyerangnya dengan suara keroyokan. Akhirnya dengan berat hati Emu menyiapkan jaket tebal, dan perlengkapan sekenanya, dan tak lupa dompet berisi uang serta barang penting yang wajib dibawa sebagai seorang pendatang di negeri itu. Sambil merapikan barang bawaannya, ia tak lupa merapikan hatinya yang diselimuti ketakutan.

Dalam hati Emu berusaha terkoneksi dengan Tuhan, memanjatkan doa perlindungan semoga perjalanan malam itu diridhoi-Nya, atau setidaknya tidak dimurkai dan tidak menjadi awal pembelotannya dengan nilai-nilai yang ia jaga selama ini. Dalam mobil milik seorang daisempai (paling senior) di antara mereka, teman-temannya bercerita sana-sini, tertawa lepas tanpa beban,mengenang kekonyolan yang pernah mereka lakukan dengan wanita penghibur malam-malam sebelumnya, dan sesekali menyindir Emu yang sedari tadi masih asyik dengan kesendiriannya, dan enggan mengeluarkan sepatah katapun. Dalam diamnya, Emu sangat membenci dirinya karena tak mampu menolak ajakan yang sangat mengerikan itu. Dia pasrah apapun yang akan terjadi, walaupun dia tahu pasrah itu nama lain dari kelemahan.

Tiba di tempat yang dituju, receptionist menerima mereka dengan ramah namun keramahan itu tidak menjangkau hati Emu yang sedang ketakutan parah. Emu membalas senyuman dengan yang serupa walaupun dalam hatinya ia bertanya-tanya dan waspada. Mereka masuk ke dalam dan Emu memasang mata ke setiap sudut ruangan, ia terpesona dengan ruangan itu yang memang distel untuk tempat hiburan. Teman-temannya melepaskan beban dan gelak tawa seketika membuncah seolah mereka tidak pernah tersentuh masalah dalam hidup. Dan salah seorang di antara mereka bersiap-siap karena sebentar lagi permainan akan segera dimulai, rupanya ada turnamen billiard dan dia menjadi salah satu peserta dalam turnamen itu. Emu memasang kuda-kuda, tak banyak bicara, dan tetap berpegang teguh untuk tetap terkoneksi dengan Penguasa Jiwa Manusia.

Lalu daisempai  mendekati receptionist, sepertinya menanyakan ruangan untuk di sewa , dan itu merupakan kesepakatan antara Emu dan sempai (senior)nya sehingga ia akhirnya berada di antara mereka malam itu. Menunggu hasil pembicaraan daisempai itu, Emu merasa lega karena ia tidak diserang apa yang ia takutkan sebelumnya, semua baik-baik saja, berbusana dengan sopan sebagaimana receptionist pada umumnya. "Syukurlah…tidak seperti di film-film" pikirnya sambil melangkah menuju ruangan yang sudah disewa untuk satu malam itu. Sebelum masuk Emu masih sempat menyaksikan penampilan sempai-nya, dan dia menarik kesimpulan orang pribumi itu harus hati-hati melawan sempainya, kalau tidak ingin dipermalukan di rumah sendiri.

Sementara teman-temannya asyik di luar, dia terhanyut membaca profil facebook orang dalam sebuah kamar  yang muat hanya untuk satu orang. Dalam sebuah pencariannya, ia terhenti dengan sebuah profil adek kelasnya semasa di SMA, memakai foto profil samaran, dan tak ditemukan foto yang jelas di antara tumpukan foto-foto milik adek kelas itu.  Akhirnya ia beranikan untuk memantik obrolan, dan seperti gayung bersambut obrolan itu berlangsung cair. Setelah beberapa saat, ia memastikan tidak mengenal sosok adek kelas itu meskipun nama itu tidak asing ditelinganya, dan sebaliknya adek kelas itu tak pernah mengenal sosok seorang senior yang sama dengan namanya, celakanya adek kelas itu menuliskan nama teman-teman Emu seperti air mengalir. "Mungkin abang tidak terkenal dulunya…hahahaha" katanya sambil mengirim emot tertawa. "Bisa jadi, tapi bisa jadi adek yang KUPER…" balas Emu singkat yang membuat adek kelas itu terdiam. "Bercanda kok…hehehe" kata Emu untuk memperhalus ketajaman kalimatnya itu.

Puas dengan cerita sana-sini, dari seberang sana pamit dan tak lupa menyebutkan arah jarum jam saat itu,  dan Emu baru tersadar kalau di tempat dia berada  lebih dahulu dua jam dibanding tempat adek kelasnya itu.  Chat itu berakhir dengan senyuman merekah, dan rasa penasaran yang mulai tumbuh.

Komentar